Kamis, 31 Oktober 2013

SYARAT-SYARAT SYAHADATAIN

Pengertian Syarat : Sesuatu yang tanpa keberadaannya, maka yang disyaratkan itu menjadi tidak sah,  atau tidak dapat dibuktikan/ diwujudkan sebagai sebuah bukti keimanan. Syarat-syarat Ucapan Syahadatain (Dua Kalimah Syahadat) yang wajib diketahui dan dipahami oleh orang yang mengucapkannya adalah sebagai berikut:

Pertama : Ilmu
Yaitu mengetahui makna kalimah "Laa ilaaha Illallah" dari segi peniadaan dan penetapan dan mengetahui semua tuntutannya. 
Jika seorang mengetahui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan mengetahui bahwa beribadah kepada selain Allah SWT adalah bathil lalu ia mengamalkan pengetahuannya itu, berarti ia telah mengetahui makna kalimah tersebut. Firman Allah swt di dalam Al Quran;
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
”Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang sebenarnya selain Allah”. (Qs. Muhammad :19).
Rasulullah SAW  bersabda ;

مَنْ مَاَتَ وَهُوَ يعلمُ أَنَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

”Siapa yang meninggal dunia dan dia mengetahui (memahami) bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan sebenarnya melainkan Allah akan memasuki Syurga”. (HR. Muslim).

Kedua : Yakin
Yaitu meyakini dalam hati secara penuh tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa  tiada sesembahan (ILAH) yang berhak disembah (diibadahi) melainkan Allah SWT.  Firman Allah swt ; 
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang  dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”.  (Qs. Al Hujuraat :15).  

Ketiga : Penerimaan (Al Qabul)
Yaitu menerima semua tuntutan kalimah Laa ilaaha illallah dengan hati dan lisan, membenarkan dan mempercayai semua yang disampaikan Rasul SAW serta menerimanya tanpa penolakan sedikitpun. 
       Termasuk dalam katagori menolak dan tidak menerima, adalah jika  seseorang berpaling dan mencari pilihan lain  dalam memutuskan segala permasalahan selain dari syari'at Allah SWT.  Allah SWT  berfirman (Qs. Al-Ahzab : 36 ) ;
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan (aturan, hukum), akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata”.

Keempat : Penyerahan, Tunduk Dan Patuh
Yaitu pasrah dan tunduk terhadap apa yang terkandung dalam kalimah “Laa ilaaha illallah”.
Perbedaan antara “tunduk” dengan “penerimaan”, yaitu bahwa penerimaan (qabul) adalah pernyataan kebenaran makna kalimah syahadat dalam ucapan, sedang tunduk (inqiyad) adalah mengikutinya dengan tindakan / amal nyata. 
Jika seseorang telah mengetahui makna "Laa ilaaha illallah" menyakini dan menerimanya namun ia tidak tunduk, pasrah dan tidak mengamalkan tuntutannya maka hal itu tidak berguna dan tidak bermanfaat baginya ;
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ
“Dan Kembalilah kamu kepada Rabb-mu (Allah SWT), dan berserah dirilah kepada-Nya (mentaati segala syari’atnya)  sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (Qs. Az Zumar :54).

Kelima : Jujur
 Ini bermakna apabila kita melafazhkan kalimah Syahadah, kita melafazhkannya dengan penuh kejujuran. Yaitu jujur kepada Allah SWT, yang berarti jujur dalam keimanan dan akidahnya.
Kita tentu mengetahui tentang mereka yang melafazhkan kalimah Syahadatain akan tetapi mereka tidak melakukannya dengan jujur. Mereka tidak mempercayainya, akan tetapi mereka hanya melafazhkannya untuk menjaga keselamatan diri mereka ataupun untuk memperoleh  ganjaran. Mereka inilah golongan munafiq. Allah swt telah menerangkan tentang golongan ini di dalam Al Quran seperti berikut ; 
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.  (Qs. Al Baqarah 2:8-10).

Keenam : Ikhlas
Yaitu penyucian amal dengan niat yang baik dari segala noda syirik khofi (Riya). Hal ini dengan cara mengikhlaskan semua perkataan dan perbuatan hanya untuk Allah SWT dan demi mencari ridha-Nya. Firman Allah swt;
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.  (Qs. Az Zumar 39 : 2).
Rasulullah SAW  bersabda ;
 أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصاً مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan La ilaaha illallah dengan penuh ikhlas dari  hatinya atau dirinya” (HR Bukhari). 

Ketujuh : Cinta
       Yaitu mencintai kalimah yang agung ini. Ia mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Cintanya kepada keduanya melebihi segala cinta. Dia juga harus memenuhi syarat-syarat kecintaan dan kewajibannya, yaitu mencintai Allah dengan memuliakan, mengagungkan, takut dan berharap kepada-Nya serta mencintai segala sesuatu yang dicintai-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
 ثلاث  مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ أنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ المَرْأَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ إِلىَ الكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ كَمَا يكره أن يقذف في النار
“Tiga hal jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan kelezatan iman, (1) Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya, (2) dia mencintai seseorang yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah dan, (3) dia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muttafaq Alaihi)

Ini adalah syarat-syarat Syahadatain yang perlu kita fahami dan  kita realisasikan dalam kehidupan ini. Kita perlu  bertanya pada diri kita, apakah Syahadatain yang kita ucapkan setiap hari sudah memenuhi syarat-syarat dan melaksanakan tuntutan-tuntutannya? Pertanyaan   ini perlu kita tanyakan pada diri kita masing-masing sekarang, sebelum kita dihadapkan di hadapan Allah swt. 
Oleh karena itu para ‘ulama Ahlus-Sunnah wal Jama’ah seperti: Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab ra berkata dalam kitab beliau Taisir Al ’Aziz Al Hamid : “Sekedar mengucapkan “Laa ilaaha illallaah” tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntutannya berupa setia dengan tauhid, meninggalkan segala bentuk syirik akbar dan kufur terhadap thaghut maka pengucapan “Laa ilaaha illallaah” -nya tersebut tidak bermanfaat berdasarkan ijma para ulama”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar