Kamis, 31 Oktober 2013

SYAHADATAIN RUKUN ISLAM PERTAMA DAN SYARAT UTAMA DITERIMANYA KEISLAMAN SEORANG MUSLIM



Ucapan syahadatain sebagai bukti keimanan  seseorang kepada Allah SWT, ia  bukanlah semata-mata ucapan yang keluar dari bibir dan lidah saja ataupun hanya semacam keyakinan dalam hati saja, tetapi yang sebenarnya adalah merupakan suatu ikrar pernyataan kesetiaan seseorang  kepada Allah SWT bahwa hanya Allah SWT-lah yang layak dan pantas diibadahi.
Kalimat " Laa ilaaha Illallah " adalah sesuatu yang pertama kali diwajibkan atas manusia, sebagaimana ia adalah kewajiban yang terakhir. Karena itu kewajiban mengetahui dan memahami "Laa Ilaaha Illallah" adalah kewajiban yang paling agung dan paling penting, sebab tidak sempurna keimanan seseorang jika tidak memahami kalimah tauhid tersebut walau lidahnya senantiasa mengucapkan kalimat tersebut.
RUKUN SYAHADAT ”LAA ILAAHA ILLALLAH”
Kalimat syahadat ”Laa ilaaha illallah” memiliki rukun, sebagaimana sholat, puasa dan haji, yang apabila rukun tersebut ditinggalkan maka tidak sah sholat, puasa atau hajinya. Rukun Syahadat ”Laa ilaaha illah” memiliki dua rukun;
(1). RUKUN  PERTAMA ”LAA ILAAHA ILLALLAH” ; AN-NAFYU (PENIADAAN)
 Yaitu penggalan kalimat ”LAA ILAAHA ”, maksudnya, kalimat tersebut menolak  segala bentuk peribadatan (sesembahan) kepada selain Allah SWT. Terdapat empat Ilah-Ilah palsu yang wajib ditiadakan/ditolak, yaitu:
1.   AL-ALIHA
Yaitu  apa saja yang manusia yakini dapat memberikan mudharat ataupun manfaat sehingga manusia bergantung kepadanya. Allah SWT berfirman  pada surah Asy-Syura ayat 9;
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Atau Patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung  yang sebenarnya dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kalau kita melihat kenyataan orang yang melakukan kemusyrikan pada zaman sekarang ini, mereka tidak menamakan apa yang mereka ibadati (sembah, agungkan) selain Allah itu sebagai ilah (sebagai tuhan) akan tetapi dengan nama-nama yang lain.
Contoh 1 :
       Batu besar atau pohon besar yang dianggap angker, lalu orang datang menuju ke batu besar / pohon besar tersebut dengan sesajen, bisa berbentuk cerutu, kopi pahit, bekakak ayam atau apa saja. Batu ini adalah sesuatu yang dituju oleh orang tersebut dengan suatu hal tadi (sesajian) dan pemberian sesajen ini pasti ada maksudnya, karena tidak mungkin seseorang menyimpan sesajen-sesajen pada batu besar tersebut dengan tujuan agar dimakan semut, tidak… tentu bukan itu maksudnya, akan tetapi maksudnya adalah sebagai bentuk mencari manfaat atau tolak bala. Misalnya minta dijauhkan dari bala (bencana), karena menurut keyakinannya bahwa pada batu besar itu ada yang penunggunya.
Ketika orang tadi melakukan ‘tindakan’ pemberian sesajen pada batu besar / pohon besar itu dengan persembahan-persembahan tadi dalam rangka tolak bala atau minta manfaat, berarti batu besar ini adalah ilah yang dipertuhankan selain Allah, sehingga pengucapan Laa ilaaha illallaah-nya adalah tidak benar… bohong !, dengan kata lain orang tersebut belum muslim, meskipun dia shalat, shaum, zakat, haji, dan lainnya.
Contoh 2 :
       Nyi Roro Kidul… biasanya orang pantai selatan, mereka datang ke pantai ‘menuju’ Nyi Roro Kidul dengan suatu hal seperti “Pesta Laut”, dengan cara melemparkan makanan-makanan ke laut sebagai persembahan kepada Nyi Roro Kidul, kata mereka ada maksudnya… Apakah itu ? Yaitu tolak bala atau cari manfaat, di antaranya mereka ingin mendapat keselamatan jika sedang melaut, tidak diterpa badai atau kecelakaan lainnya, sekaligus diberi tangkapan ikan yang melimpah. Maka dalam kasus ini berarti Nyi Roro Kidul itu adalah ilah, yang telah dipertuhankan selain Allah SWT. Mereka yang melakukan pesta laut itu adalah orang-orang musyrik ! bukan orang-orang muslim.
Contoh 3 :
  Sebagian masyarakat ada yang berkeyakinan bahwa Dewi Sri itu adalah Dewi Padi. Petani datang ke sawah dengan membawa kelapa muda atau rurujakan atau terkadang  Nasi Tumpeng, lalu disimpan di pematang sawah. Buat siapa…? Kata mereka buat Dewi Sri. Dewi Sri adalah sesuatu yang dituju oleh petani tersebut dengan suatu hal tadi (sesajen). Apa maksudnya…? Kalau bukan tolak bala berarti meminta manfaat agar panennya berhasil atau supaya tidak ada hama, dan seterusnya. Berarti Dewi Sri ini telah dipertuhankan selain Allah SWT, dan berarti orang-orang tersebut telah melanggar Laa ilaaha illallaah, dan telah jatuh sebagai musyrik.
Contoh 4 :
  Orang mau membuat rumah atau bangunan, di mana kata masyarakat bahwa di daerah yang akan dibangun rumah itu terdapat jin penunggunya. Ketika membuat rumah atau bangunan lainnya, maka orang tersebut menuju sesuatu itu (jin) dengan sesuatu hal berupa tumbal (seperti : memotong ayam atau kambing lalu dikubur  kepala dan darahnya sebelum dibuat pondasi rumah/bangunan) agar tidak diganggu oleh jin tersebut. Berarti jin ini adalah sesuatu yang dituju oleh pemilik rumah dengan sesuatu yaitu tumbal dalam rangka tolak bala. Berarti jin ini telah dipertuhankan, dan orang yang melakukan perbuatan tersebut adalah jatuh kepada musyrik…! meskipun dia shalat, puasa, zakat, haji dan yang lainnya.
Contoh 5 :
  Kuburan, baik itu kuburan orang sholeh atau kuburan siapa saja. Orang menamakan kuburan tersebut adalah kuburan keramat sehingga orang datang ke kuburan tersebut. Ada yang niat minta jodoh lewat penghuni kubur tersebut dengan bertawassul (berperantara) kepada mereka, berarti kuburan ini adalah sesatu yang dituju oleh orang tadi dalam rangka meminta manfaat, minta jodoh, minta rizqi, atau minta do’a, ada juga yang minta agar dijauhkan dari bala. Berarti kuburan tersebut telah dipertuhankan, telah dijadikan sekutu Allah SWT, dan para pelakunya berarti secara otomatis telah  musyrik… Mereka beralasan bahwa kami ini adalah orang biasa dan banyak dosa dan kesalahan, sedangkan wali atau orang sholeh yang meninggal dunia ini  ini adalah orang suci, bersih, dan dekat dengan Allah SWT, sedangkan Allah itu Maha Suci, jika orang seperti kami ini minta langsung kepada Allah maka kami malu, sebagaimana kalau minta suatu kebutuhan pada penguasa kita tidak langsung datang kepada penguasa tersebut, akan tetapi melalui orang dekatnya… jadi dia menyamakan Allah SWT dengan makhluk. Perbuatan tersebut adalah penyekutuan Allah SWT, walaupun dia tidak mengatakan bahwa dirinya telah mempertuhankan selain Allah. 
2.  AT-THAWAAGHIT
Yaitu siapa saja yang disembah serta rela diibadahi, atau  ditaati dan diikuti selain Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surah Al- Baqarah ayat 256:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
”Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (syaithan, dukun, paranormal, pemimpin zholim) dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat (Laa ilaaha illallah) yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.
Dua hal ini (Iman kepada Allah SWT dan ingkar kepada Thoghut) adalah landasan utama diterimanya amal shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim atau musyrik. Seseorang tidak bisa menjadi Muslim yang sebenarnya kecuali mereka menolak semua bentuk Thoghut, apakah itu berbentuk benda tertentu atau seseorang. 
Thoghut telah di defenisikan oleh Shahabat dan Ulama salaf yaitu: “Sesuatu yang disembah, ditaati atau diikuti selain dari Allah SWT”
 Imam Malik bin Anas berkata: Thoghut adalah segala sesuatu yang disembah (atau ditaati) selain Allah.” (Diriwayatkan dalam Al Jaami’ li Ahkaam Al Qur’an oleh Imam Al Qurtubi). 
Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Dan thoghut secara umum, adalah sesuatu yang disembah selain Allah, dan itu disetujui untuk disembah, diikuti atau ditaati.”(Risalatun fii Ma’naa At Thoghut oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab). 
 Seseorang bisa menghabiskan seluruh hidupnya untuk shalat atau berbicara tentang Islam, Jihad, Haji, shalat, Dakwah, Shiyaam dan seterusnya, tetapi jika mereka tidak menolak  dan tidak mengingkari thoghut maka semua itu tidak bernilai di sisi Allah SWT. Sebab menolak thoghut adalah syarat pertama menjadi seorang Mukmin.
Siapakah thoghut itu ? Dan thoghut itu  mempunyai lima   bentuk dan masing-masing mempunyai ciri tersendiri dan ada disetiap zaman dan masa, yaitu :
(1). Asy-Syaitan – seseorang yang menyeru untuk menyembah selain Allah SWT, baik syaithan dari jenis jin atau manusia. Dan dalil untuk hal ini adalah perkataan Allah Swt.
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", (QS Yaasin, 36: 60).
(2). Seseorang memutuskan (atau menghakimi) dengan selain daripada apa yang Allah SWT turunkan.
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah telah menyatakan seseorang – siapa saja maupun penguasa - yang tidak berhukum dengan kitab Allah (Al-Qur’an) adalah jatuh kepada kekafiran;  Hujjahnya adalah firman Allah SWT yang berbunyi:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Al Ma’idah, 5: 44)
(3). Seseorang yang mengklaim bahwa dia mengetahui tentang hal-hal ghaib yang Allah SWT tidak pernah memberitahukan kepada kita.
Ada sebagian permasalahan berkaitan dengan hal-hal Ghaib yang Allah informasikan kepada beberapa hamba-Nya. Seseorang yang menyatakan bahwa dia mengetahui apa yang Allah tidak informasikan kepada kita adalah thaghut (Kaafir).  Hujjahnya adalah firman Allah SWT yang berbunyi;
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
(dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.  (QS Al Jin, 72: 26-27)
(4). Seseorang yang disembah selain daripada Allah SWT dan dia senang untuk dijadikan sesembahan.  Hujjahnya adalah firman Allah SWT;
وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
Dan Barangsiapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah ilaah (sesembahan) selain daripada Allah", Maka orang itu Kami beri Balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.  (QS Al Anbiyaa’, 21: 29).
       Pengertian ” menyembah ”  bukan berarti  harus  ruku’ dan sujud secara fisik  tetapi  termasuk juga mentaati dan mengikuti pendapat seseorang (pemimpin/ulama) yang mana pendapat tersebut bertentangan dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang dilakukan oleh pengikut yahudi dan nasrani seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surah at-Taubah ayat 31 ;
اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah...”
       Ketika Rasulullah SAW menyampaikan ayat ini (Qs.9:31) kepada Adi bin Hatim, maka Adi bin Hatim berkata:” Kami  tidak menyambah mereka (pendeta / rahib) ?”. Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan kalian juga ikut mengharamkannya, dan menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan kalian juga ikut menghalalkannya?  Maka Adi bin Hatim menjawab “ benar wahai Rasulullah ”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Maka yang demikian itu sama dengan menyembah mereka”.
3.  AL-ANDAAD
Yaitu tandingan-tandingan yang dapat memalingkan manusia dari Allah SWT. Allah SWT berfirman pada surah Al Baqarah ayat 165:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Jadi sesuatu yang memalingkan dari ibadah kepada Allah SWT baik itu anak, isteri, suami, posisi jabatan, harta benda, pertanian atau perkebunan dan seterusnya, kalau hal tersebut justeru mamalingkan seseorang dari tauhid, berarti sesuatu itu telah dijadikan Andad… tandingan bagi Allah SWT.
Umpamanya, seorang  ayah yang sangat sayang kepada anaknya, sedang si anak tersebut dalam keadaan sakit, lalu ada orang yang menyarankan kepada si ayah tersebut agar si anak yang sakit itu dibawa ke dukun. Dikarenakan saking sayangnya kepada si anak tersebut akhirnya si ayah datang ke dukun dan mengikuti apa yang disarankan oleh si dukun tersebut. Maka dengan demikian si anak tersebut telah memalingkan si ayah tadi dari Tauhid, dan berarti si anak telah menjadi Andad. Sedangkan Allah SWT berfirman:
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“…Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah sedang kamu mengetahui”. (QS QS. Al-Baqarah  : 22)
4.    AL-ARBAAB
Yaitu seseorang yang berfatwa mengeluarkan hukum dan bertentangan dengan kebenaran  Al Quran dan As Sunnah  yang kemudiannya diikuti manusia. Allah SWT berfirman :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Sesembahan selain Allah  (Qs. At Taubah :31)
Jadi mereka yang memfatwakan sesuatu yang bukan bersumber dari syari’at Allah berarti disebut arbab, sedang yang mengikuti dan mentaati fatwa tersebut padahal dia tahu bahwa itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Shohih berarti ia telah musyrik walau dia masih mengaku muslim. Allah SWT berfirman ;
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“...Menentukan hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah (taat) selain Dia. Itulah agama yang lurus (Islam), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf  : 40)
وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
“…dan jika kamu menuruti mereka (seseorang yang berfatwa yang menyimpang dari syari’at Allah), Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS. Al An’am : 121)
Rasulullah SAW telah mensinyalir dalam hadits shohih bahwa di akhir zaman nanti akan bermunculan da’i-da’i  (mubaligh) yang menyeru dan mengajak ummat ke pintu jahannam walaupun secara lahiriyah dia berbicara Islam dan berpenampilan Islami, apa yang disampaikan tidak sesuai dengan perbuatan mereka, mereka menjual ayat-ayat Allah SWT untuk mencari keuntungan dunia dan mendukung kebathilan dengan fatwa-fatwanya ;
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ يَقُوْلُ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ اَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ اَنْ يُدْرِكَنِى فَقُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ, إِنَّاكُنَّافِى جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ : نَعَمْ. فَقُلْتُ : هَلْ بَعْدَ ذلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟,قَالَ : نَعَمْ,وَفِيْهِ دَخَنٌ.قُلْتُ : وَمَادَخَنُهُ ؟,قَالَ : قَوْمٌ يَسْتَنُوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِى وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِى تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ.فَقُلْتُ : هَلْ بَعْدَ ذلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟,قَالَ : نَعَمْ,دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ اَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا.فَقُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ,صِفْهُمْ لَنَا! قَالَ : نَعَمْ,قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا.قُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ, فَمَاتَرَى اَنْ اَدْرَكَنِى ذلِكَ ؟ قَالَ : تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ.فَقُلْتُ : فَإِنْ لَمْ تَكُنْ جَمَاعَةٌ وَلَاإِمَامٌ ؟.قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَاوَلَوْاَنْ تَعَضُّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكُكَ الْمَوْتَ وَاَنْتَ عَلَى ذلِكَ
Dari Hudzaifah ibnu Al-Yamani ra, ia berkata:”Biasanya orang yang banyak bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebajikan, tetapi aku bertanya kepada beliau SAW tentang kejahatan dan itu takut menimpaku, lalu aku bertanya :”Ya Rasulallah ! kami dahulu berada dalam kejahiliahan  dan kejahatan. Karena itu Allah SWT menurunkan kebaikan (Islam) kepada kami,mungkinkah sesudah itu timbul lagi kejahatan?”,Rasulullah saw menjawab: ”Tentu!”,tanyaku lagi: ”Mungkinkah sesudah itupun datang lagi kebaikan ?, Jawab Nabi SAW :”Ya,tetapi sudah cacat!”, tanyaku:”Apa cacatnya?”, Jawab Nabi saw:” Suatu Kaum  membuat peraturan diluar sunnahku dan memimpin tanpa petunjuk-ku, engkau mengenal mereka dan tidak menyukainya.” Tanyaku:”Sesudah kebaikan itu,timbul lagi kejahatan?”, jawab beliau SAW :” Ada, yaitu bermunculan da’i-da’i  (mubaligh) yang menyeru di pintu neraka, lalu siapa yang memenuhi dan mentaati seruannya, dilemparkannya ke dalam neraka. ”Tanyaku :”Ya Rasulullah!, Tunjukkanlah kepada kami ciri-ciri mereka!”, Jawab Nabi SAW :”Baik,yaitu orang-orang yang kulitnya sama dengan kita (mengaku beragama islam) dan mereka berbicara memakai lidah kami (berdalil dengan hadits Nabi SAW),” Tanyaku:”Bagaimana  petunjukmu seandainya kami menemui hal yang demikian?”, Jawab Nabi SAW :” Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin yang komitmen dengan syari’at Allah SWT dan Imam (pemimpin) mereka!”. Tanyaku: ”Jika tidak ada jama’ah Kaum Muslimin yang komitmen dengan syari’at Islam dan tidak ada Imam (pemimpin) mereka?”, Jawab Nabi SAW: ”Menjauhlah kamu dan jangan bergabung dengan firqoh-firqoh sesat yang menolak syari’at Allah SWT sekalipun engkau akan memakan akar-akar kayu hingga maut menjemputmu, namun tetaplah pada pendirianmu.” (HR Muslim Nomor 1814)
(2). RUKUN KEDUA ”LAA ILAAHA ILLALLAH”; AL-ITSBAT (PENETAPAN)  
Yaitu penggalan kalimat ILLALLAH ”, maksudnya kalimat tersebut menetapkan hak peribadatan hanya milik Allah SWT.  Di antara hal-hal yang perlu ditetapkan  ialah:
1.          Menetapkan hanya Allah-lah ”ILAH (sesembahan)” yang sebenarnya. (Perhatikan Qs.Muhammad :19) :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
 ”Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada sesembahan yang sebenarnya selain Allah”.
2.          Menetapkan hanya Allah-lah yang berhak menerima peribadahan dari Manusia dan hanya kepada Allah-lah setiap amal dipersembahkan. (Perhatikan Qs.Al Bayyinah :5) :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus”.
3.          Menetapkan hanya kepada Allah-lah segala Pengagungan dan Kecintaan mutlak diberikan. (Perhatikan Qs. Al Baqarah :165) :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah”.
4.          Menetapkan  hanya kepada Allah SWT saja Takut dan Pengharapan ditujukan (Perhatikan Qs. Ali Imran :175):
إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya orang-orang musyrik, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.millahibrahim.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar