Ucapan syahadatain sebagai bukti
keimanan seseorang kepada Allah SWT, ia bukanlah semata-mata ucapan yang keluar dari
bibir dan lidah saja ataupun hanya semacam keyakinan dalam hati saja, tetapi
yang sebenarnya adalah merupakan suatu ikrar pernyataan kesetiaan
seseorang kepada Allah SWT bahwa hanya
Allah SWT-lah yang layak dan pantas diibadahi.
Kalimat " Laa ilaaha Illallah "
adalah sesuatu yang pertama kali diwajibkan atas manusia, sebagaimana ia adalah
kewajiban yang terakhir. Karena itu kewajiban mengetahui dan memahami "Laa
Ilaaha Illallah" adalah kewajiban yang paling agung dan paling
penting, sebab tidak sempurna keimanan seseorang jika tidak memahami kalimah
tauhid tersebut walau lidahnya senantiasa mengucapkan kalimat tersebut.
RUKUN SYAHADAT ”LAA ILAAHA ILLALLAH”
Kalimat syahadat ”Laa ilaaha
illallah” memiliki rukun, sebagaimana sholat, puasa dan haji, yang
apabila rukun tersebut ditinggalkan maka tidak sah sholat, puasa atau hajinya.
Rukun Syahadat ”Laa ilaaha illah” memiliki dua rukun;
(1). RUKUN PERTAMA
”LAA ILAAHA ILLALLAH” ; AN-NAFYU (PENIADAAN)
Yaitu
penggalan kalimat ”LAA ILAAHA ”, maksudnya, kalimat tersebut
menolak segala bentuk peribadatan
(sesembahan) kepada selain Allah SWT. Terdapat empat Ilah-Ilah palsu yang wajib
ditiadakan/ditolak, yaitu:
1. AL-ALIHA
Yaitu apa saja yang manusia yakini
dapat memberikan mudharat ataupun manfaat sehingga manusia bergantung
kepadanya. Allah SWT berfirman pada
surah Asy-Syura ayat 9;
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ
دُونِهِ أَوْلِيَاءَ فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Atau Patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka
Allah, Dialah pelindung yang sebenarnya
dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.
Kalau kita melihat kenyataan orang yang melakukan kemusyrikan pada zaman
sekarang ini, mereka tidak menamakan apa yang mereka ibadati (sembah, agungkan)
selain Allah itu sebagai ilah (sebagai tuhan) akan tetapi dengan nama-nama yang
lain.
Contoh 1 :
Batu
besar atau pohon besar yang dianggap angker, lalu orang datang menuju ke batu
besar / pohon besar tersebut dengan sesajen, bisa berbentuk cerutu, kopi pahit,
bekakak ayam atau apa saja. Batu ini adalah sesuatu yang dituju oleh orang
tersebut dengan suatu hal tadi (sesajian) dan pemberian sesajen ini pasti ada
maksudnya, karena tidak mungkin seseorang menyimpan sesajen-sesajen pada batu
besar tersebut dengan tujuan agar dimakan semut, tidak… tentu bukan itu
maksudnya, akan tetapi maksudnya adalah sebagai bentuk mencari manfaat atau
tolak bala. Misalnya minta dijauhkan dari bala (bencana), karena menurut
keyakinannya bahwa pada batu besar itu ada yang penunggunya.
Ketika orang tadi melakukan ‘tindakan’ pemberian sesajen pada batu besar /
pohon besar itu dengan persembahan-persembahan tadi dalam rangka tolak bala
atau minta manfaat, berarti batu besar ini adalah ilah yang dipertuhankan
selain Allah, sehingga pengucapan Laa ilaaha illallaah-nya adalah tidak benar…
bohong !, dengan kata lain orang tersebut belum muslim, meskipun dia shalat,
shaum, zakat, haji, dan lainnya.
Contoh 2 :
Nyi Roro Kidul… biasanya orang pantai selatan, mereka datang
ke pantai ‘menuju’ Nyi Roro Kidul dengan suatu hal seperti “Pesta Laut”, dengan
cara melemparkan makanan-makanan ke laut sebagai persembahan kepada Nyi Roro
Kidul, kata mereka ada maksudnya… Apakah itu ? Yaitu tolak bala atau cari
manfaat, di antaranya mereka ingin mendapat keselamatan jika sedang melaut,
tidak diterpa badai atau kecelakaan lainnya, sekaligus diberi tangkapan ikan
yang melimpah. Maka dalam kasus ini berarti Nyi Roro Kidul itu adalah ilah,
yang telah dipertuhankan selain Allah SWT. Mereka yang melakukan pesta laut itu
adalah orang-orang musyrik ! bukan orang-orang muslim.
Contoh 3 :
Sebagian masyarakat ada yang
berkeyakinan bahwa Dewi Sri itu adalah Dewi Padi. Petani datang ke sawah dengan
membawa kelapa muda atau rurujakan
atau terkadang Nasi Tumpeng, lalu
disimpan di pematang sawah. Buat siapa…? Kata mereka buat Dewi Sri. Dewi Sri
adalah sesuatu yang dituju oleh petani tersebut dengan suatu hal tadi
(sesajen). Apa maksudnya…? Kalau bukan tolak bala berarti meminta manfaat agar
panennya berhasil atau supaya tidak ada hama, dan seterusnya. Berarti Dewi Sri
ini telah dipertuhankan selain Allah SWT, dan berarti orang-orang tersebut
telah melanggar Laa ilaaha illallaah, dan telah jatuh sebagai musyrik.
Contoh 4 :
Orang mau membuat rumah atau
bangunan, di mana kata masyarakat bahwa di daerah yang akan dibangun rumah itu
terdapat jin penunggunya. Ketika membuat rumah atau bangunan lainnya, maka
orang tersebut menuju sesuatu itu (jin) dengan sesuatu hal berupa tumbal
(seperti : memotong ayam atau kambing lalu dikubur kepala dan darahnya sebelum dibuat pondasi
rumah/bangunan) agar tidak diganggu oleh jin tersebut. Berarti jin ini adalah
sesuatu yang dituju oleh pemilik rumah dengan sesuatu yaitu tumbal dalam rangka
tolak bala. Berarti jin ini telah dipertuhankan, dan orang yang melakukan
perbuatan tersebut adalah jatuh kepada musyrik…! meskipun dia shalat, puasa, zakat,
haji dan yang lainnya.
Contoh 5 :
Kuburan, baik itu kuburan orang
sholeh atau kuburan siapa saja. Orang menamakan kuburan tersebut adalah kuburan
keramat sehingga orang datang ke kuburan tersebut. Ada yang niat minta jodoh
lewat penghuni kubur tersebut dengan bertawassul (berperantara) kepada mereka,
berarti kuburan ini adalah sesatu yang dituju oleh orang tadi dalam rangka
meminta manfaat, minta jodoh, minta rizqi, atau minta do’a, ada juga yang minta
agar dijauhkan dari bala. Berarti kuburan tersebut telah dipertuhankan, telah
dijadikan sekutu Allah SWT, dan para pelakunya berarti secara otomatis
telah musyrik… Mereka beralasan bahwa
kami ini adalah orang biasa dan banyak dosa dan kesalahan, sedangkan wali atau
orang sholeh yang meninggal dunia ini
ini adalah orang suci, bersih, dan dekat dengan Allah SWT, sedangkan
Allah itu Maha Suci, jika orang seperti kami ini minta langsung kepada Allah
maka kami malu, sebagaimana kalau minta suatu kebutuhan pada penguasa kita
tidak langsung datang kepada penguasa tersebut, akan tetapi melalui orang
dekatnya… jadi dia menyamakan Allah SWT dengan makhluk. Perbuatan tersebut
adalah penyekutuan Allah SWT, walaupun dia tidak mengatakan bahwa dirinya telah
mempertuhankan selain Allah.
2.
AT-THAWAAGHIT
Yaitu siapa saja yang disembah serta rela diibadahi, atau ditaati dan diikuti selain Allah SWT. Allah
SWT berfirman dalam surah Al- Baqarah ayat 256:
فَمَنْ يَكْفُرْ
بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
”Barangsiapa
yang ingkar kepada Thaghut (syaithan, dukun, paranormal, pemimpin zholim) dan
beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali
yang Amat kuat (Laa ilaaha illallah) yang tidak akan putus. dan Allah Maha
mendengar lagi Maha mengetahui”.
Dua hal ini (Iman kepada
Allah SWT dan ingkar kepada Thoghut) adalah landasan utama diterimanya amal
shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim
atau musyrik. Seseorang tidak bisa menjadi Muslim yang sebenarnya
kecuali mereka menolak semua bentuk Thoghut, apakah itu berbentuk benda
tertentu atau seseorang.
Thoghut telah di
defenisikan oleh Shahabat dan Ulama salaf yaitu: “Sesuatu yang disembah,
ditaati atau diikuti selain dari Allah SWT”
Imam Malik bin Anas berkata: “Thoghut adalah segala sesuatu yang disembah (atau
ditaati) selain Allah.” (Diriwayatkan
dalam Al Jaami’ li Ahkaam Al Qur’an oleh Imam Al Qurtubi).
Syeikhul Islam
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Dan
thoghut secara umum, adalah sesuatu yang disembah selain Allah, dan itu
disetujui untuk disembah, diikuti atau ditaati.”(Risalatun fii
Ma’naa At Thoghut oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab).
Seseorang bisa menghabiskan seluruh
hidupnya untuk shalat atau berbicara tentang Islam, Jihad, Haji, shalat,
Dakwah, Shiyaam dan seterusnya, tetapi jika mereka tidak menolak dan tidak mengingkari thoghut maka semua itu
tidak bernilai di sisi Allah SWT. Sebab menolak thoghut adalah syarat pertama
menjadi seorang Mukmin.
Siapakah thoghut itu ? Dan thoghut itu mempunyai lima bentuk dan masing-masing mempunyai ciri
tersendiri dan ada disetiap zaman dan masa, yaitu :
(1). Asy-Syaitan – seseorang
yang menyeru untuk menyembah selain Allah SWT, baik syaithan dari jenis jin
atau manusia. Dan dalil untuk hal ini adalah perkataan Allah Swt.
أَلَمْ أَعْهَدْ
إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ
عَدُوٌّ مُبِينٌ
Bukankah aku telah
memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan?
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", (QS Yaasin, 36:
60).
(2). Seseorang memutuskan (atau menghakimi) dengan
selain daripada apa yang Allah SWT turunkan.
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah
telah menyatakan seseorang – siapa saja maupun penguasa - yang tidak berhukum
dengan kitab Allah (Al-Qur’an) adalah jatuh kepada kekafiran; Hujjahnya adalah firman Allah SWT yang
berbunyi:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang
tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir. (QS Al Ma’idah, 5: 44)
(3). Seseorang
yang mengklaim bahwa dia mengetahui tentang hal-hal ghaib yang Allah SWT tidak
pernah memberitahukan kepada kita.
Ada sebagian
permasalahan berkaitan dengan hal-hal Ghaib yang Allah informasikan kepada
beberapa hamba-Nya. Seseorang yang menyatakan bahwa dia mengetahui apa yang Allah
tidak informasikan kepada kita adalah thaghut (Kaafir). Hujjahnya adalah firman Allah SWT yang
berbunyi;
عَالِمُ
الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ
يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
(dia adalah Tuhan)
yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun
tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka
Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di
belakangnya. (QS Al Jin, 72: 26-27)
(4). Seseorang yang disembah selain
daripada Allah SWT dan dia senang untuk dijadikan sesembahan. Hujjahnya adalah firman Allah SWT;
وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ
إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي
الظَّالِمِينَ
Dan Barangsiapa di
antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah ilaah (sesembahan)
selain daripada Allah", Maka orang itu Kami beri Balasan dengan Jahannam,
demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS Al Anbiyaa’, 21: 29).
Pengertian ” menyembah ” bukan berarti
harus ruku’ dan sujud secara
fisik tetapi termasuk juga mentaati dan mengikuti pendapat
seseorang (pemimpin/ulama) yang mana pendapat tersebut bertentangan dengan
syari’at Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang dilakukan oleh pengikut yahudi
dan nasrani seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surah at-Taubah ayat
31 ;
اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahibnya
sebagai tuhan selain Allah...”
Ketika
Rasulullah SAW menyampaikan ayat ini (Qs.9:31) kepada Adi bin Hatim, maka Adi
bin Hatim berkata:” Kami tidak menyambah
mereka (pendeta / rahib) ?”. Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan
kalian juga ikut mengharamkannya, dan menghalalkan apa yang telah diharamkan
oleh Allah dan kalian juga ikut menghalalkannya? Maka Adi bin Hatim menjawab “ benar wahai Rasulullah ”. Kemudian
Rasulullah SAW bersabda : “Maka yang demikian
itu sama dengan menyembah mereka”.
3. AL-ANDAAD
Yaitu
tandingan-tandingan yang dapat memalingkan manusia dari Allah SWT. Allah SWT
berfirman pada surah Al Baqarah ayat 165:
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ
اللَّهِ
Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Jadi sesuatu yang
memalingkan dari ibadah kepada Allah SWT baik itu anak, isteri, suami, posisi
jabatan, harta benda, pertanian atau perkebunan dan seterusnya, kalau hal
tersebut justeru mamalingkan seseorang dari tauhid, berarti sesuatu itu telah
dijadikan Andad… tandingan bagi Allah SWT.
Umpamanya, seorang ayah
yang sangat sayang kepada anaknya, sedang si anak tersebut dalam keadaan sakit,
lalu ada orang yang menyarankan kepada si ayah tersebut agar si anak yang sakit
itu dibawa ke dukun. Dikarenakan saking sayangnya kepada si anak tersebut
akhirnya si ayah datang ke dukun dan mengikuti apa yang disarankan oleh si
dukun tersebut. Maka dengan demikian si anak tersebut telah memalingkan si ayah
tadi dari Tauhid, dan berarti si anak telah menjadi Andad. Sedangkan Allah SWT
berfirman:
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“…Karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah sedang kamu mengetahui”. (QS QS. Al-Baqarah : 22)
4. AL-ARBAAB
Yaitu seseorang yang berfatwa mengeluarkan hukum
dan bertentangan dengan kebenaran Al
Quran dan As Sunnah yang kemudiannya
diikuti manusia. Allah SWT berfirman :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
Mereka
menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Sesembahan selain
Allah (Qs. At Taubah
:31)
Jadi mereka yang memfatwakan sesuatu yang bukan bersumber
dari syari’at Allah berarti disebut arbab, sedang yang mengikuti dan mentaati
fatwa tersebut padahal dia tahu bahwa itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan
Hadits Shohih berarti ia telah musyrik walau dia masih mengaku muslim. Allah
SWT berfirman ;
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا
إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“...Menentukan
hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak
menyembah (taat) selain Dia. Itulah agama yang lurus (Islam), tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf : 40)
وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
“…dan jika kamu menuruti
mereka (seseorang yang berfatwa yang menyimpang dari syari’at Allah),
Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS. Al An’am : 121)
Rasulullah SAW telah mensinyalir dalam hadits shohih
bahwa di akhir zaman nanti akan bermunculan da’i-da’i (mubaligh) yang menyeru dan mengajak ummat ke
pintu jahannam walaupun secara lahiriyah dia berbicara Islam dan berpenampilan
Islami, apa yang disampaikan tidak sesuai dengan perbuatan mereka, mereka
menjual ayat-ayat Allah SWT untuk mencari keuntungan dunia dan mendukung
kebathilan dengan fatwa-fatwanya ;
عَنْ
حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ يَقُوْلُ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ اَسْأَلُهُ عَنِ
الشَّرِّ مَخَافَةَ اَنْ يُدْرِكَنِى فَقُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ, إِنَّاكُنَّافِى
جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هذَا
الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ : نَعَمْ. فَقُلْتُ : هَلْ بَعْدَ ذلِكَ الشَّرِّ مِنْ
خَيْرٍ ؟,قَالَ : نَعَمْ,وَفِيْهِ دَخَنٌ.قُلْتُ : وَمَادَخَنُهُ ؟,قَالَ : قَوْمٌ يَسْتَنُوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِى
وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِى تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ.فَقُلْتُ : هَلْ بَعْدَ ذلِكَ الْخَيْرِ مِنْ
شَرٍّ؟,قَالَ : نَعَمْ,دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ
جَهَنَّمَ مَنْ اَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا.فَقُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ,صِفْهُمْ لَنَا!
قَالَ : نَعَمْ,قَوْمٌ
مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا.قُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ, فَمَاتَرَى
اَنْ اَدْرَكَنِى ذلِكَ ؟ قَالَ : تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ
وَإِمَامَهُمْ.فَقُلْتُ : فَإِنْ لَمْ تَكُنْ جَمَاعَةٌ
وَلَاإِمَامٌ ؟.قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ
كُلَّهَاوَلَوْاَنْ تَعَضُّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكُكَ الْمَوْتَ
وَاَنْتَ عَلَى ذلِكَ
Dari Hudzaifah ibnu Al-Yamani ra, ia berkata:”Biasanya
orang yang banyak bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebajikan, tetapi aku
bertanya kepada beliau SAW tentang kejahatan dan itu takut menimpaku, lalu aku
bertanya :”Ya Rasulallah ! kami dahulu berada dalam kejahiliahan dan kejahatan. Karena itu Allah SWT
menurunkan kebaikan (Islam) kepada kami,mungkinkah sesudah itu timbul lagi
kejahatan?”,Rasulullah saw menjawab: ”Tentu!”,tanyaku lagi: ”Mungkinkah
sesudah itupun datang lagi kebaikan ?, Jawab Nabi SAW :”Ya,tetapi sudah
cacat!”, tanyaku:”Apa cacatnya?”, Jawab Nabi saw:” Suatu
Kaum membuat peraturan diluar sunnahku
dan memimpin tanpa petunjuk-ku, engkau mengenal mereka dan tidak menyukainya.”
Tanyaku:”Sesudah kebaikan itu,timbul lagi kejahatan?”, jawab beliau
SAW :” Ada, yaitu bermunculan da’i-da’i
(mubaligh) yang menyeru di pintu neraka, lalu siapa yang memenuhi dan
mentaati seruannya, dilemparkannya ke dalam neraka. ”Tanyaku :”Ya
Rasulullah!, Tunjukkanlah kepada kami ciri-ciri mereka!”, Jawab Nabi SAW
:”Baik,yaitu orang-orang yang kulitnya sama dengan kita (mengaku beragama
islam) dan mereka berbicara memakai lidah kami (berdalil dengan hadits Nabi
SAW),” Tanyaku:”Bagaimana
petunjukmu seandainya kami menemui hal yang demikian?”, Jawab
Nabi SAW :” Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin yang komitmen dengan
syari’at Allah SWT dan Imam (pemimpin) mereka!”. Tanyaku: ”Jika tidak
ada jama’ah Kaum Muslimin yang komitmen dengan syari’at Islam dan tidak ada
Imam (pemimpin) mereka?”, Jawab Nabi SAW: ”Menjauhlah kamu dan jangan
bergabung dengan firqoh-firqoh sesat yang menolak syari’at Allah SWT sekalipun
engkau akan memakan akar-akar kayu hingga maut menjemputmu, namun tetaplah pada
pendirianmu.” (HR Muslim Nomor 1814)
(2). RUKUN KEDUA ”LAA ILAAHA ILLALLAH”; AL-ITSBAT
(PENETAPAN)
Yaitu penggalan kalimat ”ILLALLAH ”,
maksudnya kalimat tersebut menetapkan hak peribadatan hanya milik Allah
SWT. Di antara hal-hal yang perlu ditetapkan ialah:
1.
Menetapkan hanya Allah-lah ”ILAH (sesembahan)” yang
sebenarnya. (Perhatikan Qs.Muhammad :19) :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ
لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
”Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada
sesembahan yang sebenarnya selain Allah”.
2.
Menetapkan hanya Allah-lah yang berhak menerima
peribadahan dari Manusia dan hanya kepada Allah-lah setiap amal dipersembahkan.
(Perhatikan Qs.Al Bayyinah :5) :
وَمَا أُمِرُوا إِلا
لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
”Padahal mereka tidak
disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam menjalankan agama yang lurus”.
3.
Menetapkan hanya kepada Allah-lah segala Pengagungan dan
Kecintaan mutlak diberikan. (Perhatikan Qs. Al Baqarah :165) :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada
Allah”.
4.
Menetapkan hanya kepada Allah SWT saja Takut dan
Pengharapan ditujukan (Perhatikan Qs. Ali Imran :175):
إِنَّمَا
ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ
كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah syaitan yang
menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya orang-orang musyrik, karena itu
janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu
benar-benar orang yang beriman.millahibrahim.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar